PANDANGAN FILSAFAT ILMU TERHADAP PENERAPAN MODEL PENGELOLAAN “RAPALA EMAS (RUANG PENGELOLAAN LAUT BERBASIS MASYARAKAT)” SEBAGAI MODEL PENGELOLAAN PERIKANAN GURITA BERKELANJUTAN DI SELAT ALAS
DOI:
https://doi.org/10.29303/jppi.v6i1.9128Keywords:
Filsafat, Pengelolaan Perikanan, Selat AlasAbstract
Pengelolaan perikanan gurita yang berkelanjutan menjadi kebutuhan penting seiring meningkatnya tekanan pemanfaatan sumber daya laut di Indonesia, khususnya di Selat Alas, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Salah satu upaya yang dikembangkan adalah model pengelolaan lokal RAPALA EMAS (Ruang Pengelolaan Laut Berbasis Masyarakat) yang diinisiasi oleh Yayasan Juang Laut Lestari (JARI) bersama masyarakat nelayan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis penerapan model RAPALA EMAS dalam perspektif filsafat ilmu, khususnya dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan yang didukung oleh observasi lapangan sebagai studi kasus, dengan pendekatan analisis deskriptif-analitis. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara ontologis RAPALA EMAS memandang sumber daya gurita sebagai bagian dari sistem sosial–ekologis yang saling terkait dan memiliki batas regeneratif. Secara epistemologis, model ini dibangun melalui integrasi pengetahuan lokal masyarakat pesisir, khususnya Suku Bajo, dengan pendekatan ilmiah yang partisipatoris dan kontekstual. Sementara itu, secara aksiologis RAPALA EMAS mengandung nilai etika keberlanjutan, tanggung jawab moral manusia terhadap alam, keadilan sosial, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian, RAPALA EMAS tidak hanya berfungsi sebagai model pengelolaan perikanan yang efektif secara teknis, tetapi juga mencerminkan penerapan ilmu pengetahuan yang berorientasi pada kemaslahatan bersama dan keberlanjutan sumber daya laut di Selat Alas
