Analisis Pendapatan Usahatani Jagung (Zea mays) sebagai Tanaman Sela pada Kebun Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.) Rakyat
DOI:
https://doi.org/10.29303/1ypt4715Keywords:
tumpangsari, kelayakan, break even point, aek bilahAbstract
Luas perkebunan kelapa sawit di Kecamatan Aek Bilah mencapai 465 ha, sebanyak 90,3%nya masih berada pada fase Tanaman Belum Menghasilkan (TBM). Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperoleh pendapatan sebagai penutup biaya pemeliharaan sawit dalam fase TBM adalah dengan menerapkan sistem tumpangsari atau tanaman sela yaitu jagung yang memiliki umur panen relatif singkat, nilai ekonomi yang baik, serta mampu beradaptasi pada berbagai kondisi lahan tanpa mengganggu pertumbuhan kelapa sawit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pendapatan petani dari usahatani jagung sebagai tanaman sela pada lahan sawit TBM serta menganalisis kelayakan usaha tersebut. Penelitian dilaksanakan di Desa Biru, Kecamatan Aek Bilah, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Penelitian menggunakan teknik sampling jenuh yang menggunakan seluruh populasi sebagai sampel yaitu sebanyak 10 orang petani yang menerapkan budidaya jagung sebagai tanaman sela pada kebun kelapa sawit mereka. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif untuk menghitung biaya produksi, penerimaan, pendapatan, dan kelayakan usahatani jagung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendapatan rata-rata dari usahatani tanaman jagung sebagai tanaman sela pada kebun kelapa sawit rakyat sebesar Rp5.204.150 per musim tanam dengan produksi rata-rata sebanyak 2.298 kg, penerimaan rata-rata sebesar Rp11.847.000 dan biaya produksi rata-rata sebesar Rp6.642.840. Usahatani tanaman jagung sebagai tanaman sela pada kebun sawit rakyat ini memiliki rata-rata R/C Ratio sebesar 1,8 yang berarti usaha ini tergolong layak dengan rata-rata BEP produksi sebanyak 1.293 kg dan rata-rata BEP harga sebesar Rp3.013.








